E-mail: info@uki.ac.id | Call: +021-8092425  

Galeri Investasi BEI Hadir di FEB UKI

JAKARTA-REPORTER

Mahasiswa dan karyawan Universitas Kristen Indonesia (UKI) mulai berinvestasi saham untuk jangka panjang. Pembelajaran mengenai investasi dapat dimulai dari Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UKI) menggelar peresmian Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) UKI pada Kamis, 22 Februari 2018. Peresmian ini dihadiri oleh Rektor UKI Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., MBA., Dekan FEB UKI, Dr. Josephine Tobing, Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Dr. Lisa Kailola, S.Sos, M.Pd., Direktur PT Kresna Securities, Jimmy Nyo, dan peneliti senior pengembangan wilayah PT BEI, Harry Prasetyo, serta mahasiswa/i FEB UKI.

Acara diawali dengan pembukaan kain penutup neon box sebagai tanda diresmikannya Galeri Investasi BEI, dilanjutkan dengan pengguntingan pita ruangan Galeri Investasi BEI. Galeri Investasi BEI dapat dimanfaatkan mahasiswa dan karyawan UKI untuk membaca harga saham, mempelajari proses jual beli saham ,melihat posisi IHSG, dan menyaksikan tayangan IDX Channel. Saat ini PT BEI memiliki 330 galeri pasar modal di berbagai universitas.

Selanjutnya, mahasiswa FEB UKI yang tergabung dalam Kelompok Sekolah Pasar Modal berkesempatan mengikuti seminar dengan tema “Kenali Produk dan Pahami Resikonya dan Raih Keuntungan di Pasar Modal Indonesia.”

Dekan FEB UKI, Dr. Josephine Tobing, S.E., M.S., memberikan kata sambutannya, “Di tengah pergerakan bisnis dan perekonomian yang cepat, setiap orang sebaiknya berinvestasi. Seluruh mahasiswa UKI beserta karyawan tidak takut memasuki usia pensiun karena memiliki investasi. Selama PT Kresna memberikan pelatihan investasi secara online yang bermanfaat bagi UKI.”

Rektor UKI, Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., MBA, mengatakan, “Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia membuat sempurna IT di lingkungan UKI. Kita dapat belajar bagaimana cara berinvestasi di Bursa Efek Indonesia. Sistem hukum di Indonesia diharapkan mendukung pasar modal Indonesia.”

Selanjutnya Direktur PT Kresna Securities, Jimmy Nyo mengutarakan keinginannya untuk meningkatkan investor dari UKI, “Pertumbuhan pasar modal mengikuti pertumbuhan GDP. Sebagai pelaku pasar modal, masih dibutuhkan investor dan nasabah baru. Maka di butuhkan kerja sama dengan sivitas akademika UKI,” tutur beliau.

Peneliti senior pengembangan wilayah PT BEI, Harry Prasetyo juga menyampaikan, “Bursa bersama perusahaan sekuritas dan perguan tinggi akan terus memajukan industri pasar modal. UKI membuka kesempatan mahasiswa dan karyawan untuk membuka rekening. Pengembangan investor dengan menciptakan investor saham baru baik berupa reksadana, obligasi dan saham. Investasi saham untuk jangka panjang.”

Acara dilanjutkan dengan penyematan pin dari PT BEI kepada mahasiswa Kelompok Sekolah Pasar Modal.

Pembicara pertama dalam seminar ialah Direktur PT Bursa Efek Indonesia, Dr. Tito Sulistio, yang memberikan kuliah umum tentang Investasi di Pasar Modal. Tito Sulistio menjelaskan bagi entrepreneur, Bursa Efek Indonesia adalah tempat mobilisasi dana jangka panjang. Sedangkan bagi investor, BEI adalah sarana Investasi jangka panjang. Investor dapat berupa individu, institusi dari domestik maupun asing. Di tahun 2017, 70 % merupakan investor lokal dan 30 % berasal dari investor asing.

“Public company adalah perusahaan yang bertanggung jawab ke publik dengan mencatatkan sahamnya di bursa. Perusahaan Go Public ini melakukan penawaran saham perdana kepada masyarakat baik secara perorangan atau institusi melalui pasar bursa. Jangan menunggu besar untuk Go Public, tetapi jadilah besar dengan Go Public. Lakukan Go Public untuk memperbesar perseroan serta membangun kebanggan pegawai. Jika anda enggan Go Public, sama saja Anda menghindari masa depan yang lebih baik. Ada beberapa alasan agar perusahaan dapat melakukan IPO di Indonesia yaitu stabilitas ekonomi, suku bunga rendah, inflasi terjaga, GDP terbesar di ASEAN, dan kuatnya investor domestik,” ucap Dr. Tito Sulistio.

Salah satu contoh kenaikan harga saham adalah saham produk elektronik Apple . Pada tahun 2001, harga saham Apple ialah USD 1.2 per lembar saham, di tahun 2018 harga saham Apple ialah USD 171.85 per lembar saham.

Tito Sulistio menambahkan, ada berbagai tantangan di tahun 2018, di antaranya kebijakan Trumph, kenaikan Fed Fund Rate, adanya Pilkada 2018, ASIAN Games. Fokus BEI di tahun 2018 adalah memperbesar kemampuan mobilisasi dana dan meningkatkan likuiditas pasar.

Pembicara kedua dalam seminar ini ialah Hendry Wijaya, S.E., M.M., dari PT Kresna Securities. Hendry Wijaya mengatakan, “Investasi saham itu mudah asalkan memilih perusahaan dan produk yang net profit-nya stabil dan dapat berinvestasi jangka panjang. Jika kita menyimpan tabungan di bank kekayaan kita akan bertambah dengan lambat dibandingkan dengan berinvestasi di pasar modal.”

Hendry Wijaya memberikan contoh perusahaan yang memiliki kenaikan nilai sahamnya. Salah satunya ialah Aqua. Ketika tahun 1990, harga sahamnya Rp7500 per lembar dan menjadi Rp500.000 per lembar di tahun 2011. Contoh perusahaan lain yang stabil sahamnya ialah BCA, Indofood, Unilever, Dan Astra International.

© 2018 Universitas Kristen Indonesia